Tulisan Ayah│Cerita Ayah│Kajian│Sirah Nabawy│Tafsir Quran│Hadits│Tips dan Trik│

Kedudukan Sirah Ibnu Hisyam

Gambar kitab Sirah Ibnu Hisyam
Meski pun ada ‘sesuatu’ padanya, namun karya Ibnu Ishaq merupakan sandaran utama para pengkaji sirah sejak dulu sampai sekarang. Nyaris tidak ada seorang pun yang menceburkan diri ke dalam kajian sirah Rasulullah yang tidak menjadikan karya Ibnu Ishaq sebagai rujukan pertama dalam studinya.

Sirah Ibnu Ishaq sendiri sejak masa yang panjang telah dikenal di kalangan ulama sebagai Sirah Ibnu Hisyam, sebab Ibnu Hisyam lah yang meriwayatkan dan merapikan susunannya. Ibnu Khallikan berkata, “Ibnu Hisyam inilah yang mengumpulkan sirah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dari kitab al-Maghazi was Siyar karya Ibnu Ishaq. Beliau merapikan susunannya serta meringkas isinya. Kitab sirah inilah yang sekarang beredar di masyarakat dan dikenal sebagai Sirah Ibnu Hisyam.”
Kitab sirah ini sendiri benar-benar mendapat perhatian sejati di kalangan pengkaji dan pen-syarah. Abul Qasim ‘Abdurrahman as-Suhaili (w. 581 H)  (1) menjelaskan isinya secara panjang lebar dalam karyanya yang berjudul Ar-Raudhul Unuf.

Sesudahnya tampillah Abu Dzarr al-Khusyani. (2) Beliau meneliti Sirah Ibnu Hisyam dan menjelaskan kata-kata sulit yang ada di dalamnya, serta menulis beberapa kritik atasnya, dalam karyanya yang berjudul Syarh as-Sirah an-Nabawiyah. Karya ini telah dipublikasikan di zaman kita oleh Dr. Paul Bronnle.

Badruddin Muhammad bin Ahmad al-‘Aini juga menyusun syarah untuk kitab ini yang berjudul Kasyful Litsam Fi Syarhi Sirah Ibni Hisyam, yang dirampungkannya pada 805 H.

Dari sisi lain, kita mendapati beberapa ulama lain juga melakukan peringkasan terhadap karya tersebut. Di antaranya Burhanuddin Ibrahim bin Muhammad, yang lebih dikenal sebagai Ibnul Murahhil asy-Syafi’i. Beliau meringkas Sirah Ibnu Hisyam dan menambahkan beberapa bagian yang kurang dalam sebuah karya yang dipecahnya ke dalam 18 majelis pendiktean. Diberi judul adz-Dzakhirah Fi Mukhtashar as-Sirah. Beliau menyelesaikannya pada 611 H. 

Kemudian ada lagi Abul ‘Abbas Ahmad bin Ibrahim bin ‘Abdurrahman al-Wasithi yang meringkasnya dalam karya berjudul Mukhtashar Sirah Ibn Hisyam, yang selesai disusun pada 711 H.

Di antara ulama yang menggubahnya dalam bentuk syair adalah Abu Muhammad ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad bin Sa’id ad-Damiri ad-Dirini, yang wafat tahun 663 H.

Juga Abu Bakr Muhammad bin Ibrahim, yang lebih dikenal sebagai Ibnus Syahid, wafat pada 793 H. Karyanya diberi judul al-Fath al-Qarib Fi Siratil Habib, yang terdiri dari beberapa puluh ribu bait.

Catatan kaki:
(1) Beliau adalah Abul Qasim ‘Abdurrahman bin ‘Abdullah bin Ahmad bin Ashbugh al-Khats’ami as-Suhaili al-Andalusi al-Malaqi. Suhail adalah nama sebuah lembah (wadi) di Andalusia, bagian dari distrik Malaga. Beliau meniti hidupnya di Andalusia, karena dilahirkan di sana pada 508 H. Kemudian bermukim di Marrakesy (Marokko) dalam 3 tahun terakhir kehidupannya, hingga wafat di sana pada 581 H.
(2) Beliau adalah Abu Dzarr Mush’ab bin Muhammad bin Mas’ud al-Jiyani al-Khusyani, dinisbatkan kepada Khusyain, sebuah kawasan di Andalusia dan salah satu kabilah dari suku Qudha’ah. Lahir tahun 532 H dan wafat pada 604 H.

Sumber:
Tahdzib Sirah Ibn Hisyam, h. 11-12
Share:

No comments:

Post a Comment

Terima Kasih Atas kunjugan anda silahkan tinggalkan pesan

Featured Post

Bantuan Beasiswa Bagi Mahasiswa Anak Pedagang Kecil Terdampak PPKM Darurat Gelombang 2

Pandemi tak jua berakhir di Indonesia, pemerintah telah melakukan berbagai cara untuk mengatasi Pandemi. Nampaknya  belum ada tanda berakhir...

Blog Archive

Most Popular

Followers