Tulisan Ayah│Cerita Ayah│Kajian│Sirah Nabawy│Tafsir Quran│Hadits│Tips dan Trik│

Inilah Sirah Ibnu Hisyam

Gambar Buku

Gambar Buku Sirah Ibnu Hisyam

Sering terdengar namanya bahkan sering diperbincangkan, seperti apa tulisan tentang perjalanan hidup nabi, bagaimana gaya menulis Ibnu Hisyam? berikut penjelasannya

Setelah itu, tampillah Ibnu Hisyam (1).  Beliau meriwayatkan Sirah Ibnu Ishaq untuk kita dalam bentuk yang telah dirapikan dan diseleksi isi kandungannya, kira-kira setengah abad setelah penyusunannya oleh Ibnu Ishaq, melalui satu orang perantara saja, yaitu Ziyad al-Bakka’i (2).

Karya Ibnu Ishaq – yang diriwayatkan Ibnu Hisyam – aslinya tidaklah seperti yang ada di tangan kita sekarang. Sebab Ibnu Hisyam telah mengolah berbagai sisi dari Sirah Ibnu Ishaq dengan melakukan penghalusan, peringkasan, penambahan, sesekali mengkritisi, serta membandingkannya dengan riwayat-riwayat lain yang dikutip para ulama. Pada permulaan kitab beliau telah memaparkan sebagian metodenya dalam meriwayatkan kitab Ibnu Ishaq tersebut.

Meski demikian, kita tidak meragukan bahwa Ibnu Hisyam tetap memegang amanah dan keinginan kuatnya untuk meriwayatkan karya Ibnu Ishaq. Ibnu Hisyam tidak pernah mengganti dan menambahkan satu kata pun untuk menjelaskan kekeliruan di dalamnya, atau menjelaskan makna yang sulit dipahami, atau membandingkan riwayat-riwayat di dalamya kecuali beliau akan memulainya dengan kalimat: “Ibnu Hisyam berkata”.

Adapun peringkasan, maka hal itu merupakan tujuan utamanya dalam meriwayatkan Sirah Ibnu Ishaq. Beliau membuang bagian sebelum sejarah Nabi Isma’il bin Ibrahim, ‘alaihimas salam, sejak awal mula penciptaan. Demikian pula beliau membuang cerita-cerita tentang anak-cucu Isma’il dan berita-berita yang tidak ada kaitannya sedikit pun dengan sirah – tentu, menurut pandangannya. Beliau juga membuang sekian banyak syair yang beliau ragukan kesahihan riwayatnya.

Orang yang menelusuri bagian pokok sirah yang diriwayatkan oleh Ibnu Hisyam akan merasakan di dalamnya suatu karakter keinginan yang sangat kuat dan amanah yang sangat ketat, yang menjadi ciri khas para ulama muslim di masa silam.


Catatan kaki:

(1) Beliau adalah Abu Muhammad ‘Abdul Malik bin Hisyam bin Ayyub al-Himyari. Masa kecilnya dilalui di Basrah, kemudian berdiam di Mesir. Di sana Imam Syafi’i sering berkumpul dengannya dan saling melantunkan sekian banyak syair-syair bangsa Arab. Selain merapikan Sirah Ibnu Ishaq, beliau juga menyusun kitab tentang nasab bangsa Himyar dan para raja mereka, juga satu kitab lain yang menjelaskan kata-kata sulit dalam syair-syair yang terdapat dalam sirah. Wafat di Fusthath pada 218 H.

(2) Beliau adalah al-Hafizh Abu Muhammad Ziyad bin ‘Abdul Malik bin ath-Thufail al-Bakka’i al-‘Amiri al-Kufiy. Al-Bakka’i adalah penisbatan kepada Bani Bakka’, salah satu pecahan dari Bani ‘Amir bin Sha’sha’ah. Beliau datang ke Baghdad dan di sana ia mengambil riwayat maghazi dari Muhammad bin Ishaq serta faraidh dari Muhammad bin Salim, lalu kembali ke Kufah dan wafat di sana pada masa kekhilafahan Harun ar-Rasyid, tahun 183 H. Ibnu Hisyam sangat menghormati gurunya ini dengan sebaik-baiknya. Beliau menyatakan dalam permulaan kitabnya, “Saya meninggalkan beberapa hal yang sebagiannya tidak pantas dibicarakan, sebagian lagi akan membuat tersinggung jika disebutkan, dan sebagian lainnya tidak diizinkan oleh al-Bakka’i untuk diriwayatkan.”


Sumber:

Tahdzib Sirah Ibn Hisyam, h. 10-11

Share:

No comments:

Post a Comment

Terima Kasih Atas kunjugan anda silahkan tinggalkan pesan

Featured Post

Bantuan Beasiswa Bagi Mahasiswa Anak Pedagang Kecil Terdampak PPKM Darurat Gelombang 2

Pandemi tak jua berakhir di Indonesia, pemerintah telah melakukan berbagai cara untuk mengatasi Pandemi. Nampaknya  belum ada tanda berakhir...

Blog Archive

Most Popular

Followers