Saya termasuk orang yang senang dengan anak-anak, kesukaan saya terhadap anak-anak nampaknya terasah sejak saya masih muda dulu. Saat muda dulu, saya diberi amanah oleh para orang tua dikampung saya untuk mengajari anak-anak mereka belajar al Qur’an. Jadilah saya guru TPQ yang kebetulan juga kegiatannya di msuholla dekat rumah saya, setiap petang selepas ashar saya mengajari anak-anak tersebut mengenal huruf hijaiyah. Kadang saya mengajak mereka untuk kerja bakti membersihkan musholla, mengepel lantai, menjemur tikar, dan menguras bak mandi untuk kepentingan wudlunya para jamaah musholla. Kegiatan ini berlangsung sleama hamper dua tahun, sebelum kemudian saya hijarah ketanah jawa. Di tanah Jawa tepatnya di Malang, ternyata saya juga diberi amanah mengasuh anak-anak usia SD, SMP hingga SMA. Maka semakin terasah lah kesukaan saya kepada anak-anak, hingga kelak saat saya sudah menikah dan mempunyai dua anak, ternyata ini menjadi bekal utama saya sebagai seorang ayah.

Hari-hari ini saya resah dan rindu berat, bukan kepada isteri saya, tapi kepada beberapa keponakan saya yang tempat tinggalnya berbeda kota dengan tempat tinggal saya. Ada yang di Jakarta,Cikarang,Magetan dan terbanyak di Lombok. Bagi saya, meski keberadaan mereka ditengah-tengah kehidupan saya , membuat saya menjadi tambah berumur. Saya senang dengan kehadiran mereka, maka saat-saat yang paling saya suka adalah ketika mereka bisa berkumpul bersama keluarga kami. Saya tidak menghafal nama lengkap mereka, namun saya punya panggilan dan rasa rindu yang berbeda terhadap mereka. Dalam budaya Lombok tempat kelahiran saya, ada prinsip dalam keluraga kami bahwa “keponakan sama dengan anak sendiri”, ternyata prinsip ini tertanam begitu kuat dalam diri saya.

Prinsip ini kemudian berpengaruh kuat terhadap cara saya memperlakukan mereka, tentu saja ketika saya menganggap seperti anak sendiri, maka kasih sayang saya terhadap mereka tidak jauh beda dengan menyayangi anak sendiri. Mudah-mudahan dengan rasa kasih sayang ini, merupakan wujud dari pengamalan hadits Rasulullah shollollahu’alaihiwasallam. Dari ‘Aisyah ra ia berkata :


جَاءَ أَعْرَابِى إِلَى النَّبِى صلى الله عليه وسلم فَقَالَ : تُقَبِّلُونَ الصِّبْيَانَ ، فَمَا نُقَبِّلُهُمْ ، فَقَالَ النَّبِى صلى الله عليه وسلم أَوَأَمْلِكُ لَكَ أَنْ نَزَعَ اللَّهُ مِنْ قَلْبِكَ الرَّحْمَةَ


“Datang seorang Arab Badui kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, “Apakah kalian mencium anak-anak laki-laki?, kami tidak mencium mereka”. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Aku tidak bisa berbuat apa-apa kalau Allah mencabut rasa rahmat/sayang dari hatimu” (HR Al-Bukhari dan Muslim)

Semoga anak-anak kita tidak kekurangan kasih sayang dari ayahnya.