-->

Tulisan Ayah│Cerita Ayah│Kajian Islam│ Sirah Nabawy│Tafsir Quran│Hadits│Tips dan Trik│Teknologi

Siapakah örang baik "itu? Bagian akhir

 Menurut Ibnu Katsir, dulu sebagian muslim dan Ahli Kitab merasa berat menerima kenyataan bahwa menjadi orang baik tidak cukup dengan shalat saja, sebab Allah telah menurunkan berbagai kewajiban dan meminta mereka untuk melaksanakannya. Sebagaimana diketahui, ayat tsb turun di Madinah, sementara shalat merupakan kewajiban pertama yang diturunkan di penghujung Periode Makkah. Lalu, pada masa-masa awal Periode Madinah kewajiban demi kewajiban turun menyusulnya seperti puasa Ramadhan, zakat, dan jihad.

Logika ini bisa dibalik, bahwa tidak akan pernah cukup untuk mendapatkan atribut “baik” dalam perspektif Islam bila seseorang hanya rajin bekerja, jujur, atau santun; sementara ia tidak beriman kepada Allah, tidak mengerjakan shalat, dan enggan menunaikan zakat. Allah mengajari kita untuk berpikir dan menilai seseorang secara utuh, dari segenap sudut.

Bila kita perhatikan baik-baik, ayat 177 dari surah al-Baqarah di atas mencakup kaidah-kaidah mendasar dalam akidah, ibadah, dan mu’amalah sekaligus. Ada aspek-aspek keyakinan seperti beriman kepada Allah, Hari Akhir, malaikat, Kitabullah, dan para Nabi. Ada pula aspek-aspek ibadah seperti shalat dan zakat. Ada lagi aspek mu’amalah dan akhlak seperti menyantuni karib kerabat, anak yatim, orang miskin, ibnu sabil, peminta-minta, memerdekakan budak, menepati janji, dan bersabar dalam segala kondisi.

Islam tidak menerima pemisahan-pemisahan, karena hal itu mencirikan cara berpikir sekuler. Allah menghendaki kita menjadi orang-orang yang memiliki keimanan yang baik, ketekunan beribadah, akhlak yang indah, sekaligus bisa diandalkan ketika bermu’amalah dengan sesama. Inilah orang-orang baik dalam arti sebenarnya.

Dengan demikian, sekarang kita dapat menilai secara mantap lontaran-lontaran yang berseliweran di sekitar kita. Sederhana saja logikanya, bahwa yang disebut orang baik itu bukan hanya yang rajin shalat. Orang baik adalah yang dalam kehidupannya terlihat segenap sifat-sifat yang ditunjukkan oleh Allah dalam ayat tsb. Sudah pasti pula tidak bisa disebut orang baik bila dia hanya profesional, pekerja keras, memiliki kepedulian sosial yang tinggi, namun pada saat bersamaan akidahnya menyimpang dan ibadahnya berantakan.

Untuk itu, mari berupaya keras memenuhi seluruh karakteristik yang Allah sebutkan, dan mari kita tinggalkan perdebatan-perdebatan liar itu. Kelak, biar Allah sendiri yang menyematkan gelar “orang baik” itu kepada kita. Amin. Wallahu alam.

 

[*] Alimin Mukhtar. Sabtu, 16 Muharram 1436 H.

Labels: kajian, Ust.Alimin

Thanks for reading Siapakah örang baik "itu? Bagian akhir . Please share...!

0 Komentar untuk "Siapakah örang baik "itu? Bagian akhir "

Terima Kasih Atas kunjugan anda silahkan tinggalkan pesan

Back To Top