Tulisan Ayah│Cerita Ayah│Kajian│Sirah Nabawy│Tafsir Quran│Hadits│Tips dan Trik│

Friday, June 11, 2021

Mengenal Kitab As-Siyar Wal Maghazi, karya Ibnu Ishaq (2)

Mengenal Kitab As-Siyar Wal Maghazi, karya Ibnu Ishaq (2)

Pada awalnya kehidupan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidaklah diceritakan dalam bentuk utuh sejarah atau biografi. Aktivitas pertama – terkait beliau – adalah pengumpulan hadis, setelah pengumpulan Al-Qur’an diselesaikan di zaman Khulafa’ Rasydiun. Kemunculan Sirah Nabawiyah dimulai dari fragmen-fragmen terpencar yang diceritakan para saksi sejarah dan dicatat dalam berbagai kitab, terutama hadis. Sementara, ‘sejarah’ dalam pengertian disiplin ilmu membutuhkan penggabungan materi-materi tersebut ke dalam kronologi logis, disertai analisis dan kesimpulan. Inilah yang dilakukan kaum muslimin paruh pertama Abad I Hijriyah.

Ibnu Ishaq (w. 153 H) tentu bukan orang pertama di bidang ini. Berdasar urutan wafatnya, beliau ulama ke-28 yang menekuni sejarah di masa itu. Kelebihan beliau adalah keberhasilannya mengumpulkan dan merangkai bahan-bahan yang diceritakan generasi sebelumnya ke dalam satu karya mandiri dan utuh, yaitu kitab as-Siyar wal Maghazi. Karya-karya lain atau riwayat yang terangkai dalam kitab Ibnu Ishaq mencakup banyak unsur seperti nasab, ayyamul ‘arab, hadis, tafsir, dan sastra (adab).

Riwayat nasab tidak hanya mencakup silsisah kekeluargaan dan hubungan darah, namun juga tindakan dan kisah hidup orang-orang yang disitir di dalamnya. Ayyamul ‘arab (harfiah: hari-hari besar bangsa Arab), biasanya berisi detail peperangan dan aneka peristiwa besar di masa lalu. Hadis sendiri mencakup ucapan (aqwal), tindakan (af’al), dan ketetapan (taqrir) Rasulullah yang sebagian memiliki relevansi kesejarahan tertentu. Adapun tafsir juga mencakup asbabun nuzul dan juga peristiwa maupun tokoh tertentu, misalnya ayat-ayat terkait Perang Badar dan Perang Uhud. Terakhir, unsur adab (sastra) merupakan ‘dokumen’ lisan bangsa Arab terhadap aspek-aspek kehidupan mereka, sebab mereka adalah bangsa yang buta huruf.

Edisi perdana Sirah Ibnu Ishaq sendiri semula dipersembahkan untuk khalifah Abu Ja’far al-Manshur. Namun, karena dinilai terlalu tebal, beliau diminta meringkasnya. Sejumlah bagian dihapus atau dipersingkat. Konon, aslinya memuat cerita detail sejak sebelum penciptaan alam semesta dan zaman Nabi Adam. Keturunan Nabi Ismail sebagai leluhur bangsa Arab juga dikisahkan secara rinci di dalamnya. Sekian lama kitab ini dianggap hilang dan hanya sampai ke zaman kita melalui ringkasannya, yaitu Sirah Ibnu Hisyam.

Namun, dengan izin Allah, dewasa ini sebagian manuskrip aslinya ditemukan – meski tidak lengkap – dan berhasil diterbitkan. Sejauh ini, itulah satu-satunya manuskrip Sirah Ibnu Ishaq yang sampai ke zaman kita. Ma’had ad-Dirasat Wal Abhats Lit Ta’rib menerbitkannya dalam 441 halaman, dicetak oleh Percetakan Muhammad V di Fes (Marokko) pada 1396 H/1976 M.

Dr. Suhail Zikar juga mengeditnya berdasar naskah yang diriwayatkan Yunus bin Bukair dari Ibnu Ishaq langsung itu. Hasilnya dicetak Darul Fikr Beirut pada 1978 M (1398 H), setebal 384 halaman, termasuk lampiran-lampiran. Isi kandungan manuskrip tunggal ini hanya sampai riwayat seputar Perang Uhud.

Ahmad Farid Mazyadi mengedit ulang naskah tersebut dan menambahkan bagian-bagian yang hilang darinya, yang diambilkan dari Sirah Ibnu Hisyam yang secara spesifik dinyatakan bersumber dari Ibnu Ishaq. Hasilnya diterbitkan Darul Kutub Al-‘Ilmiyah Beirut pada 2004 M (1424 H) setebal 735 halaman.

Sebagaimana umumnya karya di bidang hadis di zamannya, metode periwayatan Ibnu Ishaq juga memuat sanad. Hanya saja, karena beliau hidup di zaman yang sangat dekat dengan generasi Sahabat, maka sanad itu umumnya pendek. Seringkali juga Ibnu Ishaq menyebutkan suatu kisah tanpa menyebut sumbernya. Bagian-bagian seperti inilah yang kadang menjadi celah untuk mengkritiknya. Semoga Allah merahmati Ibnu Ishaq.


0 komentar:

Post a Comment

Terima Kasih Atas kunjugan anda silahkan tinggalkan pesan

 
Top