Home » , , , , » Inilah Para Penyusun Sirah

Inilah Para Penyusun Sirah

Para penulis sirah generasi pertama adalah ‘Urwah bin az-Zubair bin al-‘Awwam (wafat 92 H), Aban bin ‘Utsman bin ‘Affan (w. 105 H), Wahb bin Munabbih (w. 110 H), Syurahbil bin Sa’ad (w. 123 H), Ibnu Syihab az-Zuhri (w. 124 H), dan ‘Abdullah bin Abi Bakr bin Hazm (w. 135 H).

Namun kitab-kitab karya mereka lenyap seluruhnya. Tidak tersisa samasekali selain petikan-petikan kecil yang tersebar dalam karya-karya sejarah semisal Tarikh ath-Thabari; kecuali sebagian fragmen dari karya Wahb bin Munabbih yang saat ini tersimpan di Heidelberg, Jerman.

Lalu tibalah generasi para penyusun kitab. Di antara nama yang paling termasyhur adalah Musa bin ‘Uqbah (w. 141 H), Ma’mar bin Rasyid (w. 150 H), dan Muhammad bin Ishaq (w. 152 H).

Disusul generasi lain, yang mana di dalamnya terdapat Ziyad al-Bakka’i (w. 183 H), al-Waqidi (w. 207 H) penyusun al-Maghazi, Ibnu Hisyam (w. 218 H), dan Muhammad bin Sa’ad (w. 230 H) penyusun ath-Thabaqat. 

Sirah Ibnu Ishaq

Di antara kitab paling termasyhur, paling tinggi kedudukannya, dan paling terpercaya di bidang ini adalah kitab sirah milik Muhammad bin Ishaq (1) yang disusun pada awal-awal masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah.

Para ulama menceritakan bahwa Ibnu Ishaq menghadap khalifah al-Manshur di Baghdad, sementara di hadapannya ada putranya al-Mahdi. Al-Manshur bertanya kepada Ibnu Ishaq, “Apakah engkau tahu siapa anak ini, hai Ibnu Ishaq?” Ia menjawab, “Ya, ini putra amirul mu’minin.” Al-Manshur berkata, “Pergilah dan susun suatu kitab berisi kisah sejak Allah menciptakan Adam ‘alaihis salam hingga masa hidupmu sekarang ini!” Maka Ibnu Ishaq pun pergi dan menyusun sebuah kitab untuk al-Manshur. Tapi al-Manshur berkata, “Engkau terlalu memanjangkannya, hai Ibnu Ishaq. Pergilah dan ringkaskanlah!”

Adapun kitab besar itu dimasukkan ke dalam khazanah penyimpanan amirul mu’minin.

Catatan

(1) Ibnu Ishaq  adalah Muhammad bin Ishaq bin Yasar bin Khiyar, Abu ‘Abdillah al-Madani al-Qurasyi, maula (mantan budak) milik Qais bin al-Makhramah bin al-Mutthalib bin ‘Abdi Manaf. Kakeknya, Yasar, adalah tawanan perang dari ‘Ain Tamr, sebuah negeri di sebelah barat Kufah dari sisi daratan, yang ditaklukkan kaum muslimin pada zaman khalifah Abu Bakr tahun 12 H. Sang kakek ini dibawa ke Madinah dan cucunya Muhammd lahir di sana tahun 85 H. Muhammad melalui masa mudanya di Madinah dan melakukan rihlah ke berbagai negeri Islam. Ia pergi ke Iskandariyah tahun 115 H dan meriwayatkan hadis dari sejumlah ulama Mesir, kemudian melanjutkan ke Kufah, Jazirah, Rayy, Basrah, dan akhirnya Baghdad hingga masa tuanya. Ia wafat di Baghdad tahun 152 H. Ibnu ‘Adiy berkata tentang dirinya, “Andai tidak ada keutamaan lain yang dimiliki Ibnu Ishaq selain telah mengalihkan perhatian para penguasa dari sibuk menelaah kitab-kitab yang tidak memberi manfaat apa pun kepada kesibukan mengkaji maghazi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, masa kenabian beliau serta awal mula penciptaan alam semesta, niscaya keutamaan ini saja sudah cukup menjadikan Ibnu Ishaq sebagai yang terdepan.”

Sumber:

Tahdzib Sirah Ibn Hisyam, h. 8-9

Thanks for reading Inilah Para Penyusun Sirah

Newest
Next »
Next Post »

3 komentar:

  1. KOk karya generasi pertama lenyap semua? Mengapa?

    ReplyDelete
  2. ngebayangin kalo misal buku-buku perpustakaan di baghdad tetep ada, tp qadarullah ternyata takdirnya harus dihancurkan

    ReplyDelete

Terima Kasih Atas kunjugan anda silahkan tinggalkan pesan