Home » , , » Pengantar Shirah Ibnu Hisyam

Pengantar Shirah Ibnu Hisyam


Sholat Jamaah Para Santri
Layaknya sebuah buku untuk mengakrabkan pembacanya dengan buku yang akan mereka baca, atau sekedar membuka fikiran pembacanya.Maka demikain pula dengan shirah Ibnu Hisyam , menjadi penting sebuah kata pengantar untuk memperkenalkan diri tentang apa yang di dalamnya. Kata pengantar ini juga sebagai sarana agar para pembaca memahami kelebihan apa yang terdapat dalam kitab shirah Ibnu Hisyam dengan kitab shirah lainnya.

Sejarah zaman jahiliyah tidak mengenal apa pun kecuali yang mereka ceritakan secara turun-temurun. Karakteristik sejarah dari zaman itu sejalan dengan karakteristik kehidupan bangsa Arab sendiri. Sejarah mereka berisi kebanggaan terhadap leluhur, seputar kepahlawanan, kedermawanan, dan kesetiaan. Di sana terangkum informasi-informasi tentang nasab dan persekutuan antar suku. Sejarah mereka mengungkap apa saja yang mereka lakukan semisal kisah yang menuturkan sejarah Baitullah dan para penjaganya; sumur Zamzam dan kemunculannya; berita kaum Jurhum dan para pemuka kaum Quraisy; cerita bendungan Ma’rib yang jebol sehingga bangsa mereka berdiaspora ke berbagai negeri setelahnya; berita para dukun dan mantera-mantera bersajak mereka; serta aneka cerita serupa yang menggambarkan kehidupan sosial, politik, dan keagamaan mereka.

Islam datang dan kisah-kisah itu tetap diceritakan, berita-beritanya tetap dituturkan. Kemudian mereka menemukan bahan yang lebih berlimpah dan horison yang lebih luas untuk diceritakan, yakni dalam kisah awal mula kemunculan dakwah Islam beserta keajaiban-keajaiban menjelang kenabian yang mendahuluinya; dalam awal mula kehidupan Rasulullah dan kisah tumbuh-kembangnya yang mulia; yang diiringi oleh berita-berita seputar risalah beliau, kisah kaum muslimin para Sahabat Nabi, kisah musuh-musuh beliau, serta perjalanan hidup beliau di tengah-tengah kaum muslimin, musyrikin, Yahudi, dan Nasrani. Maka, mereka pun kembali menuturkannya secara turun-temurun. Al-Qur’an, hadis Nabi dan ungkapan para Sahabat sendiri merupakan rekaman yang sarat-padat perihal kehidupan baru itu.

Saat itu Al-Qur’an telah dicatat, namun hadis Nabi – dalam masa yang panjang – tetap terjauhkan dari pencatatan. Umat tidak mengetahui hadis kecuali melalui periwayatan lisan yang terpercaya. Secara umum, tidak seorang pun yang berani untuk mencatat hadis, sebagai bentuk kepatuhan kepada pesan yang terkandung dalam hadis riwayat Abu Sa’id al-Khudriy, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jangan mencatat apa pun dariku selain Al-Qur’an. Siapa pun yang telah mencatat selain Al-Qur’an dariku maka silakan dihapus!”

Hikmah di balik permintaan ini sangat gamblang, yaitu kekhawatiran bila wahyu tercampur dengan ucapan Nabi sendiri pada saat penurunan ayat-ayat Kitabullah. Jelas bahwa perintah beliau tersebut dimaksudkan untuk memelihara tujuan mulia ini, yang tentunya – tidak diragukan lagi – terbatas hanya pada zaman penurunan Al-Qur’an.


Sumber:

Tahdzib Sirah Ibn Hisyam, h. 7-8

Thanks for reading Pengantar Shirah Ibnu Hisyam

« Previous
« Prev Post
Next »
Next Post »

4 komentar:

  1. Hmmm,,, berhubung baru baca pengantarnya saja, saya masih menerka-nerka. Apakah Syirah Ibnu Hisyam adalah sirah tentang Ibnu Hisyam atau sirah yang ditulis oleh Ibnu Hisyam. Kalo googling nemu kali ya,,,

    ReplyDelete
  2. Makasih banyak pak, saya jadi tahu sejarahnya. Ternyata awal awal zaman Islam dahulu tidak ada yang berani mencatat hadits nabi SAW karena patuh pada hadis riwayat Abu Sa’id al-Khudriy.

    ReplyDelete
  3. makasih atas ilmu yang bermanfaat ini mas
    menambah siraman rohani di minggu oagi yang cerah ^_^

    ReplyDelete

Terima Kasih Atas kunjugan anda silahkan tinggalkan pesan