Home » , , , » Mensyukuri nikmat Iman

Mensyukuri nikmat Iman

kajian, khutbah,artikel,menjaga iman,
Khutbah di masjid
Bagi seorang mukmin, bersyukur tidak hanya pada saat mendapatkan rizki tetapi kokohnya iman juga harus disyukuri. Sebab mempertahankan iman dizaman seperti ini, sungguh membutuhkan keteguhan yang lebih agar senantiasa bisa menjaganya dengan baik. Maka bersyukur atas adanya iman dalam diri menjadi wajib untuk dilakukan , agar Allah menjaga kita hingga akhir kehidupan didunia.


Pernahkah kita – atau, orang-orang di sekitar kita – berangan-angan, andai saja bisa terlahir di zaman Rasulullah, lalu hidup dan berjuang bersama beliau? Kita melihat beliau shalat, dan menirunya sepersis mungkin. Beliau berdoa, dan kita mengaminkannya. Bila kita berselisih pendapat, beliau hadir dan wahyu turun menyelesaikannya. Saat musuh datang, beliau membariskan kita dan memimpin pertempuran. Lalu, para malaikat turun, dan kemenangan teraih. Sebagian kita syahid dan beliau mempersaksikan kita telah masuk surga atau dijemput bidadari, lalu sebagian yang lain pulang dengan membawa ghanimah. Bukankah semua ini terasa begitu menggairahkan dan penuh semangat?

Sepertinya begitu. Tetapi, bila angan-angan itu kita kemukakan kepada salah seorang Sahabat Rasulullah yang sesungguhnya, belum tentu mereka akan senang. Salah satunya adalah al-Miqdad bin al-Aswad, si Penunggang Kuda (faaris) andalan Rasulullah.
Jubair bin Nufair bercerita, bahwa pada suatu hari ada seseorang yang berkata kepada al-Miqdad, “Sungguh beruntung kedua mata Anda ini, yang telah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Demi Allah, sungguh kami berharap andai bisa melihat apa yang telah Anda lihat dan menyaksikan apa yang telah Anda saksikan.” Namun, beliau terlihat tidak senang. Jubair berkata, “Saya merasa heran. Bukankah orang itu hanya mengatakan sesuatu yang baik?”
Lalu, al-Miqdad menghadap orang itu dan berkata, “Apa sebenarnya yang mendorong seseorang untuk mengangankan suatu momen yang telah Allah jauhkan darinya, padahal ia tidak pernah tahu – andaikan ia benar-benar menyaksikannya – bagaimana sikapnya di saat itu? Demi Allah, sungguh telah banyak orang yang berjumpa langsung dengan Rasulullah, namun Allah menjungkalkan mereka ke dalam neraka Jahannam karena mereka tidak menjawab seruan beliau dan tidak pula membenarkannya. Mengapa kalian tidak memuji Allah, sebab Dia telah membuat kalian terlahir dalam keadaan tidak mengenal selain Tuhan kalian dan membenarkan apa yang diajarkan oleh Nabi kalian? Sungguh, Dia telah mencukupkan malapetaka besar itu pada generasi selain kalian. Demi Allah, sungguh Allah mengutus Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam dalam suatu kondisi yang paling berat bagi kebangkitan seorang Nabi, yaitu pada zaman kekosongan dari kenabian (fatrah) dan kejahiliyahan, dimana saat itu manusia tidak melihat ada agama yang lebih baik dibanding penyembahan berhala. Lalu, beliau datang membawa furqan yang memilah antara hak dan batil, serta memisahkan antara seorang ayah dengan anaknya; sampai seseorang bisa melihat (dengan jelas) bahwa ayah, anak atau saudaranya adalah kafir. Allah telah membuka segel hatinya sehingga ia beriman, dan ia tahu persis bahwa jika ia mati (dalam keadaan seperti mereka) pastilah ia masuk neraka. Maka, ia tidak akan senang sebab ia tahu bahwa orang-orang yang dicintainya itu justru masuk neraka. Inilah makna firman Allah, “Orang-orang yang berdoa: ‘Wahai Tuhan kami, anugerahilah kami istri-istri dan anak-anak yang menyenangkan pandangan mata kami.” (Qs. al-Furqan: 74). [Hadits riwayat Ahmad. Isnad-nya shahih].
Jadi, angan-angan seperti itu ternyata tidak layak dan belum tentu baik. Mari kita renungkan faktanya. Dalam peristiwa Hijrah, kaum muslimin hanya berjumlah ratusan dari ribuan penduduk Makkah. Di Perang Badar, 313 kaum muslimin harus berhadapan dengan kaum kafir yang tiga kali lipat jumlahnya. Peristiwa serupa kembali terulang di medan Uhud, Khandaq, Tabuk, dll. Lalu, ada ratusan ribu manusia dari Syam dan Mesir yang berbaris menghadang Islam, dikomandoi Kaisar Byzantium. Kishra Persia juga tidak tinggal diam dan mengirim pembunuh bayarannya ke Madinah, untuk menghabisi Rasulullah. Di seantero Semenanjung Arabia pun tersebar banyak kabilah yang mayoritas tidak memihak Islam. Belum lagi makar kaum Yahudi dan munafik di Madinah, Tayma’ atau Khaibar.
Bila kita benar-benar terlahir dan hidup di zaman itu, berapa persen peluang kita untuk berpihak kepada Rasulullah? Atau sebaliknya, kita justru menjadi orang lemah yang tidak bisa berbuat apa-apa selain mengekor keyakinan dan kecenderungan mayoritas orang di sekitar kita? Lihatlah, jutaan manusia di zaman itu justru berdiri di barisan kaum kafir, entah pasif maupun aktif, dan banyak diantaranya dijungkalkan oleh Allah ke jurang Jahannam. Rasa-rasanya kita pun akan sama saja dengan mereka. Astaghfirullah!
Maka, daripada mengharapkan sesuatu yang belum tentu baik, alangkah tepat jika kita mensyukuri iman karunia Allah ini. Bukankah ia sebuah keberuntungan dan berkah? Bukankah Allah telah menghadiahi kita keimanan tanpa harus bersimbah-darah menghadapi seluruh dunia seperti para Sahabat? Tidakkah cukup bagi kita pujian Rasulullah kepada orang-orang yang beriman kepada beliau, meskipun tidak sempat berjumpa secara langsung? Diceritakan oleh Abu Jumu’ah – seorang Sahabat – bahwa pada suatu hari para Sahabat makan bersama Rasulullah, dan diantara mereka terdapat Abu ‘Ubaidah bin al-Jarrah. Ia bertanya, “Wahai Rasulullah, adakah seseorang yang lebih baik dari kami? Kami masuk Islam dan berjihad bersama Anda.” Beliau menjawab, “Ya, ada. Mereka adalah kaum yang hidup sesudah kalian, yang beriman kepadaku walaupun tidak melihatku.” (Riwayat Darimi, Ahmad, dan al-Hakim. Sanad-nya shahih). Wallahu a’lam.


Thanks for reading Mensyukuri nikmat Iman

« Previous
« Prev Post
Next »
Next Post »

26 komentar:

  1. Replies
    1. salam kenal juga pak widodo, terima kasih atas kunjugannya

      Delete
  2. Bersyukurlah kita sebagai umat islam jika masih bisa melaksanakan ibadah dengan kusyhu dan ikhlas. Karena era sekarang banyak kehidupan beragama hanya sebatas Kwantitas saja dari pada Qualitasnya.😊😊🙏🙏

    ReplyDelete
    Replies
    1. betul pak terkadang umat salah kaprah mengenai ini

      Delete
  3. Alhamdulillah memang kita masih diberikan nikmat iman Islam. Karena jika hidup di zaman Rasulullah Saw belum tentu juga berpihak kepadanya

    ReplyDelete
    Replies
    1. artinya hidup sekarang tapi beriman, inilah yang disebut Rasulullah dalam haditsnya. Mereka adalah saudaraku mereka yang percaya padaku meskipun mereka tidak bertemu denganku

      Delete
    2. Betul sekali kang, tetap beriman kepada Rasulullah biarpun belum pernah bertemu.

      Delete
  4. Salam kenal ya Pak... salam selamat hari raya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. ya mas salam kenal, mohon maaf lahir dan bathin

      Delete
  5. dengan bisa dikasih sehat aja, kita harus bersyukur. tulisan yang baik pak.

    ReplyDelete
  6. Menarik memang mengikuti khotbah yang isinya kisah-kisah di zaman nabi. Saat ini, saya sedang liputan di tanah kekuasaan kekaisaran Byzantium. Dan memang, pada masa kejayaannya, Islam memang peranan penting di seluruh wilayah. Jejaknya masih bisa dilihat sampai sekarang.

    Bagi saya, bisa menjejak kepingan kisah dalam kitab suci Alquran itu juga bagian dari bentuk kesyukuran akan nikmat iman.

    ReplyDelete
    Replies
    1. masyaAllah sekali-kali nulis bang dan saya publish disini

      Delete
    2. Hehehe saya senang aja sih. Tapi, mengelola blog pribadi saja masih sering keteteran. Karena saya juga bekerja offline. Jadi nulisnya disambi saja. Saat ini sedang nulis tentang kisah Ashabul Kahfi. Ada di blog tuh. Siapa tahu tertarik hehehe 😁🙏

      Delete
  7. dibandingkan zaman dulu, kita zaman sekarang tu udah enak bgt ya bisa ibadah dg tenang. semoga kita selalu dalam nikmat iman dan islam..

    -traveler paruh waktu

    ReplyDelete
  8. Di masa pandemi ini baru terasa betapa kita banyak melupakan nikmatnya beribadah yang selama ini kita abaikan, yaitu beribadah di masjid.

    Sekarang dilarang ke masjid baru deh kerasa.
    Nggak kebayang kia hidup di zaman dulu yang sulit bisa beribadah dengan tenang :)

    ReplyDelete
  9. Betul, karena itu bagi seorang mukmin bersyukur pada semua keadaan adalah sifat yang harus dimiliki

    ReplyDelete
  10. Kunjungan perdana ke blog dakwah ini. Jujur, saya saja belum berani bikin artikel khusus tentang dakwah. Paling hanya kutipan ayat Alqur'an dan Hadits sahih di beberapa artikel saya. Nikmat syukur tertinggi adalah nikmat iman dan Islam. Semoga kita diberikan nikmat tersebut. Aamiin. Oh ya, saya follow blog ini. Thx

    ReplyDelete
  11. Kadang masih lupa bersyukur, padahal apa yg Allah beri udah lebih dari cukup. Tapi kadang kalau lagi banyak masalah, malah seringny 'mencucu' kata orang jawa yg artinya manyun sambil marah2..

    ReplyDelete
    Replies
    1. bersyukur segala keadaan beristighfar untuk segala kesalahan

      Delete
  12. Setuju dengan kalimat ini "Sebab mempertahankan iman dizaman seperti ini, sungguh membutuhkan keteguhan yang lebih agar senantiasa bisa menjaganya dengan baik."
    Dan ya, saya juga pernah berpikiran seperti ingin hidup di jaman Rasul. Tapi baru kepikiran ini, belum tentu kalo kita hidup jaman itu, kita akan jadi pegikut Rasul.

    ReplyDelete
    Replies
    1. betul, meski zaman terbaik adalah semasa Rasulullah hidup, namun percuma jika saat ini tidak beriman

      Delete
  13. Memag ga mudah menegakkan keimanan kita. Apalagi gaya hidup dan tingkah laku di dunia ini begitu rapuh rasanya. Untuk bisa istiqomah aja masih sulit hiks :( Baca tulisan ini membuatku berpikir..berpikir dan menerawang jauh. TFS ya mas :)

    ReplyDelete
  14. alangkah bertuahnya kita dilahirkan dalam iman dan islam...tapi sayangnya ramai tak menghargai nikmat terbesar ini...

    ReplyDelete

Terima Kasih Atas kunjugan anda silahkan tinggalkan pesan