Home » , , , » Papukku guru Qur'an pertamaku

Papukku guru Qur'an pertamaku


download artikel tulisan ayah artikel kebun Qur'an hijaiyah guru tuan guru
Era tahun delapan puluhan, kami keluarga papuk  (baca : kakek, sasak) Napiah tinggal didalam kebun kelapa dimana papuk dipercaya untuk menjaga kebun kelapa tersebut. Di pekarangan yang luasnya tidak lebih dari 2000 meter persegi ini, tinggallah papuk, saya dan keluarga, seluruh adik ayah saya yang berjumlah tujuh orang.

Hidup kami satu keturunan amat bersahaja, karena ayah,paman, dan bibi ,mereka bekerja sebagai mandor,petani dan buruh. Sementara papuk hanyalah seorang penjaga kebun kelapa milik datu (baca: raja,sasak), kebun luas serta pekarangan yang kami tempati semua dipinjamkan hingga kontrak kerja papuk selesai.


Di kebun kelapa inilah kami menjalani kehidupan, saya ketika itu masih berumur sekitar sepuluh tahun. Setiap sore setelah magrib, mengikuti pelajaran baca Qur'an yang langsung dibimbing oleh papuk (baca: kakek, sasak) sendiri sebab beliau terkenal sebagai seorang ahli agama. Selain itu beliau juga disegani masyarakat di desa tempat kami tinggal, pembelajaran bacaan Qur'an dimulai magrib hingga isya’. Teman mengaji (belajar Qur'an) saya tidak lain, beberapa tetangga dan para paman yang masih sebaya umurnya dengan saya. Sebab bapak menikah masih relatif muda, sehingga saya cucu Pertama dari papuk ,usianya tidak jauh beda dengan paman yang nomer enam dan tujuh.

Papuk mengajar kami membaca Qur'an dengan metode klasik, beliau membaca duluan kemudian kami mengikutinya. Saya salut dengan papuk yang begitu keras mengajari kami, tak jarang jika kami melakukan kesalahan membunyikan makhrojil Huruf maka rotan ditangan beliau akan segera mendarat di paha kami. Meski ada ayah ikut mendampingi kami, beliau tidak berani melakukan apa-apa jika papuk sudah terlihat marah jika cucu dan anaknya tidak bisa mengucapkan Huruf hijaiyah.

Pembelajaran yang keras ini ternyata berpengaruh terhadap kecepatan kami menguasai bacaan al Qur’an, dalam enam bulan seingat saya atau satu tahun maksimal kami sudah lancar membaca Qur’an. Dominasi papuk dalam pendidikan anak dan cucunya terutama kepada saya, Sangat terasa setiap hari kami di kontrol dalam melaksanakan sholat lima waktu, jika ada diantara kami tidak mengerjakan sholat maka bersiaplah untuk di introgasi dan mendapatkan cambukan rotan.

Ayah tak sekalipun berani melakukan intervensi terhadap yang dilakukan papuk, sebab resikonya jika protes maka akan balik dimarahi dianggap tidak mampu menjalankan peran sebagai ayah. Papuk memang bertipe lelaki serius jika sudah berkaitan dengan pendidikan agama, namun jika anak dan cucunya penurut maka beliau tak segan memberikan penghargaan berupa uang jajan. Jadi, dibalik ketegasannya, beliau mempunyai rasa kasih sayang terhadap anak dan cucunya,kerasnya beliau mendidik kami semata-mata karena tanggung jawab beliau sebagai seorang pemuka masayarakat dan agama di desa kami.

Karena saya cucu Pertama, maka perhatian beliau extra ketat kepada saya, sejak sebelum selesai sekolah dasar, beliau sudah meminta bapak untuk segera mencarikan pondok pesantren sebagai tempat saya sekolah lanjut. Karena dikampung saya setiap satu bulan sekali , ada pengajian (belajar agama) yang dibimbing oleh seorang tuan guru (kiyai:jawa) dan papuk menjadi jamaah aktif dipengajian tersebut. Maka tak berfikir lama beliau segera merekomendasikan pesantren tuan guru tersebut sebagai sekolah saya selanjutnya.

Kerasnya didikan papuk, kini saya rasakan sebagai sebuah keberuntungan sebab berkat didikan beliau yang keras saya bisa membaca Qur'an dan karakter baik yang beliau tanamkan ketika kecil dulu, dan telah menjadi kebiasaan baik yang selalu saya lakukan.

“ ya Allah, jadikanlah kelelahan kakekku mengajarkanku Al Qur’an menjadi amal jariyah yang balasannya Engkau berikan disaat beliau telah tiada, jadikan kuburannya sebagai taman seyurga Mu sebagai tempat tinggalnya saat ini” . Aamiin

Thanks for reading Papukku guru Qur'an pertamaku

« Previous
« Prev Post
Next »
Next Post »

9 komentar:

  1. Semoga jadi amal jariyah buat papuk, Amin!

    ReplyDelete
  2. Metodenya masih membaca huruf hijaiya ya, a ba sta gitulah. Bukan semisal metode sekarang dengan model iqrok.
    Dulu saya mengajinya juga dari bakda maghrib sampai menjelans isyak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ternyata kita punya pengalaman yang sama mas, kayaknya kita se zaman

      Delete
  3. ingat dulu kalo mengaji, tiap malam bawa obor dan minyak tanah di botol bekas kecap sebagai upah keguru mengaji, kadang juga berupa gula dan semacamnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masyaallah masa kecil yang indah, semoga jadi berkah dalam hidup anda

      Delete
  4. teringat zaman kecil dulu gi ngaji quran malam2 dgn jiran

    ReplyDelete
  5. Pernah mengalami juga, terima kasih atas silaturrahimnya

    ReplyDelete
  6. jd inget kakekku yg dr pihak papa. beliau juga ketat dlm hal pendidikan dan agama. walopun akubga terlalu ngerasain sih didikannya, krn ga tinggal ama angku (sebutan utk kakek bahasa sibolga) . tp tiap kali angku ke rumah, yg beliau lakuin oasti ngajarin ngaji, dan ngetes hapalan perkalian kami semua :D

    ReplyDelete

Terima Kasih Atas kunjugan anda silahkan tinggalkan pesan