Teguran untuk seorang ayah


Sering kali kita mendengar bahwa ibu sangat berperan dalam proses pertumbuhan seorang anak, dominasi ini tentu bukanlah tanpa alasan sebab anak lebih banyak bersama ibunya. Karena itu tidaklah mudah menjadi seroang ibu, maka amat penting seorang wanita sebelum menjadi ibu membekali dirinya dengan berbagai pengetahuan tentang cara mendidik anak.


Demikian pula hal yang sama harus dilakukan oleh seorang laki-laki, sebelum ia menjadi ayah maka hendaklah membekali diri dengan berbagai pengetahuan tentang cara mendidik anak, paling tidak memahami kewajibannya sebagai seorang ayah.  Penulis pernah menemukan sebuah kasus dimana seorang anak SMA amat benci dengan ayahnya, setelah ditelusuri penyebabnya adalah, si anak tidak merasakan kehadiran ayahnya sebagai sosok yang mangayomi dan memperhatikan pendidikan si anak. Si anak mengungkapkan betapa biaya sekolahnya banyak ditanggung kakak-kakaknya. Sementara sang ayah, jarang memberikan biaya sekolah bukan karena tidak mampu namun yang lebih ironis disaat yang bersamaan ayahnya menikah lagi. Hal yang lebih dibencinya lagi, sang ayah lebih memperhatikan keluarga barunya dari pada dirinya.

Si anak ternyata tidak mau larut dalam kemelut dirinya dengan sang ayah, ia lalu berusaha sendiri memenuhi kebutuhan sekolah dan yang lainnya dengan menjadi karyawan disebuah warung nasi disaat liburan sekolah. Anda dan penulis bayangkan, betapa berat beban si anak yang masih membutuhkan perhatian sang ayah sementara ayahnya bersenang-senang dengan ibunya yang baru. Sang ayah tidak hanya menelantarkannya, bahkan stiap si anak mengutarakan keinginannya sang ayah tidak pernah mendukungnya. Lalu saat wisuda kelulusan sang anak , sang ayah pun hadir untuk pertama kalinya ke sekolah si anak, entah karena salh tulis didaftar peserta wisuda atau inikah cara Allah menegur sang ayah. Ketika semua wisudawan bergantian maju untuk diwisuda tibalah giliran sang anak disebut namanya, namun yang jadi permasalahan pembawa acara tidak menyebuk nama ayah si anak sebagai wali namun justeru menyebut nama sang kakak sebagai wali si anak. Marah bercampur malu sang ayah marah-marah dikantor sekolah, karena yang disebut sebagai wali bukan dirinya tapi justeru kakak si anak. Lalu sekolah menjelaskan bahwa, penyebutan nama wali si anak dengan nama kakaknya karena selama ini kakaknya yang selalu dating sebagai wali sia anak, sehingga sekolah menyangka bahwa ia adalah wali si anak. Namun sekolah menjamin pada penulisan ijazah dan surat pentingnya tetap nama si ayah, dengan penjelasan tersebut sang ayah menyadari tentang tindakannya selama ini tidak pernah hadir disekolah adalah kekeliruan besar , sehingga mungkin dengan kejadian ini Allah menegurnya.

Sebuah ibrah Allah berikan untuk kita, ya Allah betapa bijaksananya Engkau menegur sang ayah yang selama ini telah melalaikan kewajibannya sebagai seorang ayah. Mudah-mudahan kita bukan seorang ayah yang melalaikan anaknya. Aaamiin

Teguran untuk seorang ayah Teguran untuk seorang ayah Reviewed by Mawardi Ardi on September 18, 2018 Rating: 5

No comments:

Terima Kasih Atas kunjugan anda silahkan tinggalkan pesan

Powered by Blogger.