Rasulullah adalah pemimpin yang hidup dalam kesederhanaan

thumbnail
Khutbah,Hadits,kajian, Mengenal Rasulullah, kesederhanaan Rasulullah,kulit hewan, kasur dari serabut
Reflika tempat tidur Rasulullah

Jika kita lihat para pemimpin dunia hidup dalam kemewahan tidak demikian dengan Rasulullah, tempat tidur beliau bukannlah barang mewah,bahkan bisa diesbut jauh dari kemewahan dan sangat sederhana bahkan dibandingkan dengan umat yang dipimpinnya. Simak penjelasan  hadits berikut tentang model tempat tidur Rasulullah : 

٢٨٢ - (صحيح) - عن عائشة رَضِيَ اللَّهُ عَنْها قَالَتْ: إِنَّمَا كَانَ فِرَاشُ رسول الله الَّذِي يَنَامُ عَلَيْهِ مِنْ أَدَمٍ حَشْوُهُ لِيفٌ

🌴 282 - (SHAHIH) - Aisyah berkata, "Dulu kasur Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam hanyalah (terbuat) dari kulit yang diisi dengan sabut."

Sunnatullah, bahwa nabi diciptkan dengan wajah tampan dan suara bagus

thumbnail

 

Telah disebutkan dalam hadits sohih bahwa para nabi diciptkan Allagh dengan wajah tampan dan suara yang indah. Bekal fisik ini termasuk penunjang para nabi dalam dakwah, berikut penjelasannya

🌳 Bab 45. Tangis Rasulullah

٢٧٦ - (صحيح) - عبد الله بْنِ الشِّخِّيرِ عَنْ أَبِيهِ قَالَ: أَتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ وَهُوَ يُصَلِّي وَلِجَوْفِهِ أَزِيزٌ كَأَزِيزِ الْمِرْجَلِ مِنَ الْبُكَاءِ

♻ 276 - (SHAHIH) - Dari Abdullah bin asy-Syikhkhir: ayahnya berkata, "Aku mendatangi Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam saat beliau sedang mengerjakan shalat, dan dari rongga (dada) beliau (terdengar) suara desis karena menangis seperti desisan periuk tembaga."

Dua Rahasia Sukses dakwah Rasulullah SAW.

thumbnail

Dakwah Kepada Remaja

Serial Syamail Rasulullah (229)

Rahasia Rasulullah dalam menggapai sukses dakwah, penting untuk dipelajari oleh para dai yang berkiprah ditengah-tengah umat. Sebab Rasulullah merupakan contoh sukses tidak hanya didunia dakwah tetapi dalam setiap lini kehidupannya menarik untuk mengikuti apa yang beliau telah contohkan, inilah sebenarnya yang harus kita lakukan saat mengingat kembali hari kelahiran beliau.

٢٧٤ - (صحيح) - عَنْ قَتَادَةَ قَالَ: مَا بَعَثَ اللَّهُ نَبِيًّا إِلَّا حَسَنَ الْوَجْهِ حَسَنَ الصَّوْتِ وَكَانَ نَبِيُّكُمْ حَسَنَ الْوَجْهِ حَسَنَ الصَّوْتِ وَكَانَ لَا يُرَجِّعُ


🚩 274 - (SHAHIH) - Qatadah berkata, "Tidaklah Allah mengutus seorang Nabi melainkan ia berwajah tampan dan bersuara bagus. Nabi kalian adalah orang yang berwajah tampan dan bersuara bagus. Dulu beliau tidak melagukan bacaan (Qur'an-nya)."

Menanyakan kabar dalam bahasa Inggris

thumbnail


 Lesson one

A : Good Morning

B : Good morning

A : How are you today ?

B : Alhamdulillah I am fine, and what about you?

A : Alhamdulillah, I am fine too

 

Pelajaran : 1

A : Selamat pagi

B : Selamat pagi

A : Bagaimana kabarmu ?

B : Alhamdulillah, saya baik-baik; dan bagaimana dengan   kamu

A :Alhamdulillah, saya sehat wal afiyat


Ayo Puasa Arofah

thumbnail
Kumpul di Masjid
Sobat umur kita adalah misteri, tak ada yang bisa memastikan berapa tahun kita akan bertahan hidup didunia. Kematian adalah kepastian, sementara kapan terjadinya adalah rahasia Allah SWT., selagi kita bisa berbuat baik dan bermanfaat mari lakukan dengan Ikhlas.Pahala kita belum tentu sepadan dengan dosa kita, bisa jadi prosentase dosa lebih banyak ketimbang pahala. Akan tetapi Rasulullah pada beberapa haditsnya sering memerintahkan kepada kita , untuk melakukan sebuah ibadah yang di kategorikan sebagai solusi masalah atas problem lebih banyaknya perbuatan yang berpotensi dosa ketimbang pahala.

Berhati-hatilah dari Lima keburukan Ini

thumbnail

Kajian,Artikel,Ust.Alimin Mukhtar,Tulisan ayah,berkhutbah,Abu Dawud,kelemahan hati, kebakhilan,pengecut,albaqarah
Tanda hati-hati
‘Umar bin Khattab pernah berkhutbah dalam suatu kesempatan di musim haji. Beliau berkata, “Wahai manusia, ingatlah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam terbiasa meminta perlindungan dari lima perkara. (Beliau berdoa): ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kebakhilan dan kelemahan hati. Aku berlindung kepada-Mu dari usia yang buruk. Aku berlindung kepada-Mu dari fitnah isi hati. Dan, aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur.” (Riwayat Ibnu Hibban. Hadits shahih, ‘ala syarthi muslim).

Mensyukuri nikmat Iman

thumbnail
kajian, khutbah,artikel,menjaga iman,
Khutbah di masjid
Bagi seorang mukmin, bersyukur tidak hanya pada saat mendapatkan rizki tetapi kokohnya iman juga harus disyukuri. Sebab mempertahankan iman dizaman seperti ini, sungguh membutuhkan keteguhan yang lebih agar senantiasa bisa menjaganya dengan baik. Maka bersyukur atas adanya iman dalam diri menjadi wajib untuk dilakukan , agar Allah menjaga kita hingga akhir kehidupan didunia.

Ciri-ciri orang yang Sukses melaksanakan Ibadah Ramadhan

thumbnail
Ciri-ciri orang yang Sukses melaksanakan Ibdah Ramadhan, Ramadhan 1441 H, ciri orang bertaqwa
Ucapan selamat Idul Fitri
Ramadhan 1441 H telah meninggalkan kita, namun corona belum jua menunjukkan tanda-tanda akan pergi entah sampai kapan. Semoga Allah menjaga kita semua dari dampak Corona, kita semua merasakan betapa dahsyat dampak dari Virus ini. Dampak yang paling terasa adalah penurunan produktifitas disektor ekonomi, karena terjadinya PHK dimana-mana, maka tak heran dampak ekonomi ini memunculkan masalah baru dimasyarakat kita yaitu naiknya angka kriminilitas.

Tips Cara mendeteksi hadits Palsu-Part 2

thumbnail
kajian,kajian Ramadhan, sahih,artikel,hadits pulsa,al Quran,sahih
Gambar Kopi

Sebagaimana dinyatakan dalam artikel sebelumnya, hadits-hadits palsu sangatlah berbahaya, entah dari segi akidah, ibadah, akhlaq maupun mu’amalah. Ia pasti merusak, bukan memperbaiki. Ibarat minum obat palsu; ingin sehat tetapi justru menuai penyakit bahkan kematian. Tetapi, disiplin ilmu yang berfungsi menyaring hadits tergolong rumit dan sukar dikuasai, sehingga ahlinya pun tidak banyak. Lalu, sebagai kaum awam, apa yang bisa kita lakukan untuk membentengi diri?

Tips Cara mendeteksi hadits Palsu-Part 1

thumbnail
 Suasana Malam di jembatan dekat Putra Jaya
    Hadits palsu sering sekali mewarnai setiap perintah kepada umat Islam, terutama yang berkaitan dengan pelaksanaan ibadah. Tak heran banyak orang yang beribadah merasa diri telah menggunakan dalil yang sohih dalam beribadah, ternyata setelah diteliti dalil yang digunakan tidak hanya sekedar dhoif tapi palsu. bagaimana tips mengetahui sebuah hadits palsu atau tidak? maka tulisan ini mencoba memberikan penjelasan tentang cara mendeteksinya . 

Dalam kitabnya, Al-Burhan fi ‘Ulumil Qur’an, Syekh Badruddin az-Zarkasyi menulis, “…seharusnya (kita) waspada terhadap riwayat yang dha’if (lemah) dan maudhu’ (palsu), sebab yang seperti ini jumlahnya banyak. Sungguh, noda hitam diatas lembaran-lembaran kertas adalah noda hitam pula di dalam hati.” Tepat sekali, bila hadits palsu dipegangi dan diamalkan, ia justru mengeruhkan jiwa bahkan merusaknya. Sebab, ia tidak berasal dari Allah dan Rasul-Nya. Resep yang diberikannya tidak asli serta sembarangan. Ibarat minum obat palsu; ingin sehat tetapi justru menuai penyakit bahkan kematian.

Sejak dulu, selalu saja ada manusia-manusia berhati busuk yang menyimpan kedengkian membara kepada Islam. Mereka melancarkan aneka jurus untuk memadamkan cahayanya, walau selalu digagalkan oleh Allah, sebagaimana firman-Nya, Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya." (Qs. Ash-Shaff: 8).
Diantara upaya mereka adalah menyusupkan ribuan hadits palsu ke dalam Islam. Mereka faham bahwa kaum muslimin sangat mengagungkan Rasulullah, dan cenderung menerima apa saja titah beliau tanpa membantah. Sebab, ketaatan kepada beliau adalah bagian dari Syahadat. Dengan penyusupan itu, mereka berharap bisa melemahkan ruh Islam dari dalam, untuk kemudian menghantamnya dari luar manakala telah keropos. Mereka adalah kaum zindiq, yang menampakkan keislaman dari luar namun menyimpan kekufuran di dadanya.
Dikisahkan oleh al-Hafizh Ibnu ‘Asakir dalam Tarikh Dimasyqa, bahwa khalifah Harun ar-Rasyid menangkap seorang zindiq dan menjatuhkan vonis pancung. Orang itu bertanya, “Mengapa engkau memenggal kepalaku, hai Amirul Mu’minin?” Dijawab, “Aku ingin mengamankan hamba-hamba Allah dari kejahatanmu.” Ia berkata lagi, “Lantas, apa tindakanmu selanjutnya, padahal aku telah memalsukan seribu hadits atas nama Rasulullah? Seluruhnya palsu, tak satu huruf pun yang beliau ucapkan.” Khalifah menjawab, “Hai musuh Allah, bagaimana posisimu menghadapi Abu Ishaq al-Fazari dan ‘Abdullah bin al-Mubarak? Mereka akan menyaring seluruhnya, dan mengeluarkannya huruf demi huruf!”
Oleh karenanya, para ulama’ bangkit membangun metodologi rumit dan canggih untuk menyeleksi hadits-hadits palsu itu. Saking rumitnya, ia menjadi salah satu disiplin ilmu yang sangat jarang ahlinya. Pertanyaannya, bagi kita kaum awam, tidak adakah suatu cara praktis yang membantu kita mendeteksi – walau, tidak sampai memastikan – hadits-hadits palsu yang mungkin berseliweran di sekitar kita?
Bersyukurlah, Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah menyusun kitab al-Manar al-Munif fi ash-Shahih wa adh-Dha’if, dimana beliau merumuskan kaidah-kaidah umum yang mengulas tanda-tanda luar kepalsuan sebuah hadits, selain menderet ratusan hadits palsu sebagai contoh spesifik. Berikut ini Bagian Pertama dari dua tulisan yang memuat tanda-tanda dimaksud.
Pertama, isinya menyatakan bahwa suatu amal sederhana mendapat pahala dahsyat.
Sangat banyak hadits dari jenis ini, yang dikenal sebagai fadhilah ‘amal (keutamaan amal perbuatan). Misalnya, “Siapa menuliskan (kalimat) bismillahirrahmanirrahim, dan dia tidak membutakan huruf ha’ pada lafazh Allah (yakni, menjaga agar tetap berlobang), niscaya Allah mencatat untuknya satu juta kebaikan, menghapus darinya satu juta keburukan, dan meninggikan derajatnya satu juta tingkatan.” Kepalsuannya tampak nyata.
Contoh lain, “Siapa yang mandi pada hari Jum’at dengan disertai niat dan mengharap pahala dari Allah, niscaya Allah mencatat untuknya cahaya dengan setiap rambutnya pada Hari Kiamat, meninggikan satu derajat baginya di surga dengan setiap tetesan airnya yang berupa mutiara, permata yaqut dan zabarjad……” Aroma kepalsuan jelas tercium dari teks ini, kalimat demi kalimat.
Kedua, isinya tidak masuk akal.
Misalnya, “Terong itu tergantung niat siapa yang memakannya,” atau: “Terong adalah obat segala jenis penyakit.” Atau, yang semacam ini: “Jika seseorang bersin ketika mengutip hadits, maka dia pasti jujur.”
Ketiga, isinya terlalu remeh bahkan menjadi bahan cibiran orang.
Contohnya, “Andaikan beras itu berwujud seseorang, niscaya ia adalah orang yang sangat penyantun. Sebab, tidak seorang pun yang memakannya melainkan pasti kenyang.” Misal lain, “Siapa yang memakan kacang beserta kulitnya, niscaya Allah mengeluarkan penyakit dari dirinya sejumlah (kacang) yang dimakannya.”
Keempat, isinya memuat kerusakan, kezhaliman, kesia-siaan, memuji kebatilan, mencela kebenaran, atau yang semacamnya. Ringkasnya, bertentangan dengan hukum syari’at yang sudah masyhur.
Contohnya, menjamin orang yang memiliki nama tertentu (misal: Ahmad, Muhammad, dsb) pasti tidak masuk neraka. Padahal, keselamatan dari neraka tidak dijamin oleh nama, tetapi iman dan amal shalih. Contoh lain, “Siapa saja yang berpuasa pada pagi di Hari Idul Fitri, maka seakan-akan ia berpuasa setahun penuh.” Jelas ini palsu, sebab Rasulullah melarang kita berpuasa pada Hari Raya. Justru saat itu adalah hari bergembira, makan dan minum.
Kelima, isinya bertutur bahwa Rasulullah melakukan atau menyatakan sesuatu secara terbuka di hadapan para Sahabat, lalu mereka sepakat menyembunyikan, mengubah atau menyelewengkannya.
Contohnya, konon beliau memegang tangan Ali bin Abi Thalib sepulang dari Haji Wada’ di hadapan para Sahabat, lalu bersabda, “Inilah pemegang wasiatku, saudaraku, dan khalifah sepeninggalku. Dengarkan dia dan taatlah.” Jika riwayat ini benar, maka sangat tidak masuk akal apabila para Sahabat masih berselisih di Saqifah Bani Sa’idah perihal siapa pengganti (khalifah) beliau.
[bersambung]

[*] M. Alimin Mukhtar, 28 Ramadhan 1431 H.