Berhati-hatilah dari Lima keburukan Ini

thumbnail

Kajian,Artikel,Ust.Alimin Mukhtar,Tulisan ayah,berkhutbah,Abu Dawud,kelemahan hati, kebakhilan,pengecut,albaqarah
Tanda hati-hati
‘Umar bin Khattab pernah berkhutbah dalam suatu kesempatan di musim haji. Beliau berkata, “Wahai manusia, ingatlah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam terbiasa meminta perlindungan dari lima perkara. (Beliau berdoa): ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kebakhilan dan kelemahan hati. Aku berlindung kepada-Mu dari usia yang buruk. Aku berlindung kepada-Mu dari fitnah isi hati. Dan, aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur.” (Riwayat Ibnu Hibban. Hadits shahih, ‘ala syarthi muslim).

Mensyukuri nikmat Iman

thumbnail
kajian, khutbah,artikel,menjaga iman,
Khutbah di masjid
Bagi seorang mukmin, bersyukur tidak hanya pada saat mendapatkan rizki tetapi kokohnya iman juga harus disyukuri. Sebab mempertahankan iman dizaman seperti ini, sungguh membutuhkan keteguhan yang lebih agar senantiasa bisa menjaganya dengan baik. Maka bersyukur atas adanya iman dalam diri menjadi wajib untuk dilakukan , agar Allah menjaga kita hingga akhir kehidupan didunia.

Ciri-ciri orang yang Sukses melaksanakan Ibadah Ramadhan

thumbnail
Ciri-ciri orang yang Sukses melaksanakan Ibdah Ramadhan, Ramadhan 1441 H, ciri orang bertaqwa
Ucapan selamat Idul Fitri
Ramadhan 1441 H telah meninggalkan kita, namun corona belum jua menunjukkan tanda-tanda akan pergi entah sampai kapan. Semoga Allah menjaga kita semua dari dampak Corona, kita semua merasakan betapa dahsyat dampak dari Virus ini. Dampak yang paling terasa adalah penurunan produktifitas disektor ekonomi, karena terjadinya PHK dimana-mana, maka tak heran dampak ekonomi ini memunculkan masalah baru dimasyarakat kita yaitu naiknya angka kriminilitas.

Tips Cara mendeteksi hadits Palsu-Part 2

thumbnail
kajian,kajian Ramadhan, sahih,artikel,hadits pulsa,al Quran,sahih
Gambar Kopi

Sebagaimana dinyatakan dalam artikel sebelumnya, hadits-hadits palsu sangatlah berbahaya, entah dari segi akidah, ibadah, akhlaq maupun mu’amalah. Ia pasti merusak, bukan memperbaiki. Ibarat minum obat palsu; ingin sehat tetapi justru menuai penyakit bahkan kematian. Tetapi, disiplin ilmu yang berfungsi menyaring hadits tergolong rumit dan sukar dikuasai, sehingga ahlinya pun tidak banyak. Lalu, sebagai kaum awam, apa yang bisa kita lakukan untuk membentengi diri?

Tips Cara mendeteksi hadits Palsu-Part 1

thumbnail
 Suasana Malam di jembatan dekat Putra Jaya
    Hadits palsu sering sekali mewarnai setiap perintah kepada umat Islam, terutama yang berkaitan dengan pelaksanaan ibadah. Tak heran banyak orang yang beribadah merasa diri telah menggunakan dalil yang sohih dalam beribadah, ternyata setelah diteliti dalil yang digunakan tidak hanya sekedar dhoif tapi palsu. bagaimana tips mengetahui sebuah hadits palsu atau tidak? maka tulisan ini mencoba memberikan penjelasan tentang cara mendeteksinya . 

Dalam kitabnya, Al-Burhan fi ‘Ulumil Qur’an, Syekh Badruddin az-Zarkasyi menulis, “…seharusnya (kita) waspada terhadap riwayat yang dha’if (lemah) dan maudhu’ (palsu), sebab yang seperti ini jumlahnya banyak. Sungguh, noda hitam diatas lembaran-lembaran kertas adalah noda hitam pula di dalam hati.” Tepat sekali, bila hadits palsu dipegangi dan diamalkan, ia justru mengeruhkan jiwa bahkan merusaknya. Sebab, ia tidak berasal dari Allah dan Rasul-Nya. Resep yang diberikannya tidak asli serta sembarangan. Ibarat minum obat palsu; ingin sehat tetapi justru menuai penyakit bahkan kematian.

Sejak dulu, selalu saja ada manusia-manusia berhati busuk yang menyimpan kedengkian membara kepada Islam. Mereka melancarkan aneka jurus untuk memadamkan cahayanya, walau selalu digagalkan oleh Allah, sebagaimana firman-Nya, Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya." (Qs. Ash-Shaff: 8).
Diantara upaya mereka adalah menyusupkan ribuan hadits palsu ke dalam Islam. Mereka faham bahwa kaum muslimin sangat mengagungkan Rasulullah, dan cenderung menerima apa saja titah beliau tanpa membantah. Sebab, ketaatan kepada beliau adalah bagian dari Syahadat. Dengan penyusupan itu, mereka berharap bisa melemahkan ruh Islam dari dalam, untuk kemudian menghantamnya dari luar manakala telah keropos. Mereka adalah kaum zindiq, yang menampakkan keislaman dari luar namun menyimpan kekufuran di dadanya.
Dikisahkan oleh al-Hafizh Ibnu ‘Asakir dalam Tarikh Dimasyqa, bahwa khalifah Harun ar-Rasyid menangkap seorang zindiq dan menjatuhkan vonis pancung. Orang itu bertanya, “Mengapa engkau memenggal kepalaku, hai Amirul Mu’minin?” Dijawab, “Aku ingin mengamankan hamba-hamba Allah dari kejahatanmu.” Ia berkata lagi, “Lantas, apa tindakanmu selanjutnya, padahal aku telah memalsukan seribu hadits atas nama Rasulullah? Seluruhnya palsu, tak satu huruf pun yang beliau ucapkan.” Khalifah menjawab, “Hai musuh Allah, bagaimana posisimu menghadapi Abu Ishaq al-Fazari dan ‘Abdullah bin al-Mubarak? Mereka akan menyaring seluruhnya, dan mengeluarkannya huruf demi huruf!”
Oleh karenanya, para ulama’ bangkit membangun metodologi rumit dan canggih untuk menyeleksi hadits-hadits palsu itu. Saking rumitnya, ia menjadi salah satu disiplin ilmu yang sangat jarang ahlinya. Pertanyaannya, bagi kita kaum awam, tidak adakah suatu cara praktis yang membantu kita mendeteksi – walau, tidak sampai memastikan – hadits-hadits palsu yang mungkin berseliweran di sekitar kita?
Bersyukurlah, Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah menyusun kitab al-Manar al-Munif fi ash-Shahih wa adh-Dha’if, dimana beliau merumuskan kaidah-kaidah umum yang mengulas tanda-tanda luar kepalsuan sebuah hadits, selain menderet ratusan hadits palsu sebagai contoh spesifik. Berikut ini Bagian Pertama dari dua tulisan yang memuat tanda-tanda dimaksud.
Pertama, isinya menyatakan bahwa suatu amal sederhana mendapat pahala dahsyat.
Sangat banyak hadits dari jenis ini, yang dikenal sebagai fadhilah ‘amal (keutamaan amal perbuatan). Misalnya, “Siapa menuliskan (kalimat) bismillahirrahmanirrahim, dan dia tidak membutakan huruf ha’ pada lafazh Allah (yakni, menjaga agar tetap berlobang), niscaya Allah mencatat untuknya satu juta kebaikan, menghapus darinya satu juta keburukan, dan meninggikan derajatnya satu juta tingkatan.” Kepalsuannya tampak nyata.
Contoh lain, “Siapa yang mandi pada hari Jum’at dengan disertai niat dan mengharap pahala dari Allah, niscaya Allah mencatat untuknya cahaya dengan setiap rambutnya pada Hari Kiamat, meninggikan satu derajat baginya di surga dengan setiap tetesan airnya yang berupa mutiara, permata yaqut dan zabarjad……” Aroma kepalsuan jelas tercium dari teks ini, kalimat demi kalimat.
Kedua, isinya tidak masuk akal.
Misalnya, “Terong itu tergantung niat siapa yang memakannya,” atau: “Terong adalah obat segala jenis penyakit.” Atau, yang semacam ini: “Jika seseorang bersin ketika mengutip hadits, maka dia pasti jujur.”
Ketiga, isinya terlalu remeh bahkan menjadi bahan cibiran orang.
Contohnya, “Andaikan beras itu berwujud seseorang, niscaya ia adalah orang yang sangat penyantun. Sebab, tidak seorang pun yang memakannya melainkan pasti kenyang.” Misal lain, “Siapa yang memakan kacang beserta kulitnya, niscaya Allah mengeluarkan penyakit dari dirinya sejumlah (kacang) yang dimakannya.”
Keempat, isinya memuat kerusakan, kezhaliman, kesia-siaan, memuji kebatilan, mencela kebenaran, atau yang semacamnya. Ringkasnya, bertentangan dengan hukum syari’at yang sudah masyhur.
Contohnya, menjamin orang yang memiliki nama tertentu (misal: Ahmad, Muhammad, dsb) pasti tidak masuk neraka. Padahal, keselamatan dari neraka tidak dijamin oleh nama, tetapi iman dan amal shalih. Contoh lain, “Siapa saja yang berpuasa pada pagi di Hari Idul Fitri, maka seakan-akan ia berpuasa setahun penuh.” Jelas ini palsu, sebab Rasulullah melarang kita berpuasa pada Hari Raya. Justru saat itu adalah hari bergembira, makan dan minum.
Kelima, isinya bertutur bahwa Rasulullah melakukan atau menyatakan sesuatu secara terbuka di hadapan para Sahabat, lalu mereka sepakat menyembunyikan, mengubah atau menyelewengkannya.
Contohnya, konon beliau memegang tangan Ali bin Abi Thalib sepulang dari Haji Wada’ di hadapan para Sahabat, lalu bersabda, “Inilah pemegang wasiatku, saudaraku, dan khalifah sepeninggalku. Dengarkan dia dan taatlah.” Jika riwayat ini benar, maka sangat tidak masuk akal apabila para Sahabat masih berselisih di Saqifah Bani Sa’idah perihal siapa pengganti (khalifah) beliau.
[bersambung]

[*] M. Alimin Mukhtar, 28 Ramadhan 1431 H.

BEKERJA MENDAPATKAN REZEKI YANG HALAL

thumbnail

Siswa sedang Makan di kantin USIM Malaysia

Sahabat hilangkan dalam benak kita, bahwa dizaman sekarang ini " cari yang haram saja susah apalagi yang halal", ungkapan seperti ini menunjukkan bahwa orang tersebut telah memaksa dirinya melakukan pelanggaran terhadap larangan Allah SWT. Dan yang lebih hina lagi orang tersebut telah dirasuki oleh pemikiran sesat dan tidak mempercayai akan rizki yang telah ditetapkan oleh Allah kepadanya, banyak peluang mencari rizki halal yang diberikan Allah SWT. Namun terkadang manusia sering tidak mengikuti petunjuk yang telah diberikan oleh didalam Al Quran.
Syu’aib bin Harb – seorang shighar atba’ tabi’in – berkata, “Jangan menyepelekan uang receh (fulus) yang engkau dapatkan melalui suatu cara dimana engkau menaati Allah di dalamnya. Bukan uang receh itu yang akan digiring (menuju Allah), akan tetapi ketaatanmu. Bisa jadi dengan uang receh itu engkau membeli sayur-mayur, dan tidaklah ia berdiam di dalam rongga tubuhmu hingga akhirnya dosa-dosamu diampuni.” (Dari: al-Hatstsu ‘ala at-Tijarah wa ash-Shina’ah, karya Abu Bakr al-Khallal).

Sebuah Episode Kehidupan

thumbnail


Tak seorangpun menyangka, bahwa suatu saat dia akan mengalami persitiwa diluar dugaannya, semua berjalan diatas taqdir yang telah ditetapkan oleh Sang penentu taqdir.


Cerita Cinta Hanzalah

thumbnail


Cinta selalu meninggalkan kisah menarik dalam sejarah manusia, bagaimana cinta bisa melegenda dengarkan tausiyah dari ust. Muda Marenda Darwis

ANTARA KESUNGGUHAN, REHAT DAN KEMALASAN

thumbnail
Eco green park
Al-Hafizh Abul Faraj Ibnul Jauzi menceritakan dalam Shaydu al-Khathir, bahwa pada suatu perjalanan Imam Sufyan ats-Tsauri membawa bekal faludzaj (sejenis makanan mewah) dan daging panggang. Orang-orang pun keheranan melihat makanan tersebut, namun beliau berkata, “Sungguh, binatang tunggangan itu, jika diperlakukan dengan baik, maka ia akan bekerja (dengan baik pula).” Ya, beliau menunjuk kepada dirinya sendiri, agar diperlakukan dengan baik sehingga giat dalam menggapai cita-cita yang mulia.

Arsha si bocah Periang

thumbnail


Arsha nama seorang anak tetangga saya yang bersifat periang, lihat kelucuannya saat bermain dikebun toga